Mulai uji coba gratis
Searching...
SoBrief
Bahasa Indonesia
EnglishEnglish
EspañolSpanish
简体中文Chinese
繁體中文Chinese (Traditional)
FrançaisFrench
DeutschGerman
日本語Japanese
PortuguêsPortuguese
ItalianoItalian
한국어Korean
РусскийRussian
NederlandsDutch
العربيةArabic
PolskiPolish
हिन्दीHindi
Tiếng ViệtVietnamese
SvenskaSwedish
ΕλληνικάGreek
TürkçeTurkish
ไทยThai
ČeštinaCzech
RomânăRomanian
MagyarHungarian
УкраїнськаUkrainian
Bahasa IndonesiaIndonesian
DanskDanish
SuomiFinnish
БългарскиBulgarian
עבריתHebrew
NorskNorwegian
HrvatskiCroatian
CatalàCatalan
SlovenčinaSlovak
LietuviųLithuanian
SlovenščinaSlovenian
СрпскиSerbian
EestiEstonian
LatviešuLatvian
فارسیPersian
മലയാളംMalayalam
தமிழ்Tamil
اردوUrdu
Dalam Nama Yesus

Dalam Nama Yesus

Refleksi tentang Kepemimpinan Kristen
oleh Henri J.M. Nouwen 1989 120 halaman
4.31
13.000+ penilaian
Dengarkan
Coba Akses Penuh Selama 3 Hari
Buka fitur mendengarkan & lainnya!
Lanjutkan

Poin Penting

1. Krisis Kepemimpinan Kristen Modern

Suatu hari saya terbangun dengan kesadaran bahwa saya hidup di tempat yang sangat gelap dan istilah “burnout” hanyalah terjemahan psikologis yang nyaman untuk kematian rohani.

Pertarungan pribadi. Henri Nouwen, setelah dua dekade berkarya di dunia akademik dan imam, menghadapi krisis rohani yang mendalam. Meski sukses secara lahiriah dan mendapat pujian kritis, ia merasakan ancaman batin yang kuat, menyadari hidupnya kekurangan doa kontemplatif, memupuk kesepian, dan terserap oleh masalah-masalah mendesak yang terus berubah. Pergulatan batin ini membuatnya bertanya-tanya apakah bertambahnya usia membawanya lebih dekat kepada Yesus atau justru ke kelelahan rohani.

Panggilan ke L'Arche. Dalam kegelapan itu, Nouwen menerima panggilan jelas dari Tuhan, melalui Jean Vanier, untuk “Pergilah dan hiduplah di tengah orang-orang miskin dalam roh, dan mereka akan menyembuhkanmu.” Ini berarti meninggalkan elit intelektual Harvard untuk bergabung dengan komunitas orang-orang dengan keterbelakangan mental. Perubahan radikal ini bukan solusi mudah, melainkan perjalanan menantang ke dalam kehidupan tersembunyi, di mana pencapaian sebelumnya tak lagi berarti, memaksanya menghadapi jati dirinya yang sejati.

Kata-kata baru tentang kepemimpinan. Pengalaman di L'Arche, hidup bersama mereka yang pikiran dan tubuhnya rapuh dan menuntut rutinitas ketat serta kehadiran sederhana, mulai membentuk ulang pemahamannya tentang kepemimpinan Kristen. Pertemuan ini memberinya wawasan baru tentang tantangan para pelayan Tuhan, mendorongnya menilai ulang konsep relevansi, popularitas, dan kekuasaan dalam pelayanan, dipandu oleh godaan Yesus dan panggilan kepada Petrus.

2. Dari Relevansi Duniawi ke Diri yang Rentan

Saya sangat yakin bahwa pemimpin Kristen masa depan dipanggil untuk menjadi benar-benar tidak relevan dan berdiri di dunia ini dengan tidak menawarkan apa pun selain diri mereka yang rentan.

Ketidakrelevanan sebagai panggilan. Kepindahan Nouwen ke L'Arche menghilangkan “relevansi” akademik dan profesionalnya. Buku-bukunya, gelar, dan pengalaman ekumenisnya tak berarti bagi para penghuni yang berkebutuhan khusus, yang hanya merespons dirinya yang polos. Ini memaksanya melepaskan “diri yang relevan”—diri yang berprestasi dan beraksi—dan merebut kembali diri rentan yang terbuka untuk dicintai tanpa memandang pencapaian.

Godaan pertama Yesus. Pengalaman ini mencerminkan godaan pertama Yesus: mengubah batu menjadi roti, membuktikan kuasa melalui tindakan yang relevan dan berdampak. Dunia menuntut kompetensi dan hasil nyata, namun Yesus menolaknya, menyatakan bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Pemimpin Kristen dipanggil untuk memberitakan kasih Allah tanpa syarat, bukan menyelesaikan semua masalah praktis dengan efisiensi duniawi.

Melampaui solusi sekuler. Dalam dunia yang semakin sekuler, pemimpin Kristen sering merasa terpinggirkan, usaha mereka tampak sia-sia dibanding psikolog atau politisi. Namun, di balik pencapaian masyarakat tersembunyi keputusasaan, kesepian, dan kecacatan moral serta rohani yang mendalam. Pemimpin masa depan menerima “ketidakrelevanan” ini sebagai panggilan ilahi, masuk dalam solidaritas dengan penderitaan ini untuk membawa terang Yesus, menawarkan bukan kompetensi, melainkan kehadiran penyembuhan dari kasih.

3. Berlabuh pada Kasih Pertama Allah yang Tak Bersyarat

Pertanyaannya bukan: Berapa banyak orang yang menganggapmu serius? Berapa banyak yang akan kau capai? Bisakah kau tunjukkan hasil? Melainkan: Apakah kau sedang jatuh cinta pada Yesus?

Pertanyaan inti. Sebelum mengutus Petrus, Yesus berulang kali bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Pertanyaan ini menjadi pusat pelayanan Kristen, memungkinkan pemimpin menjadi tidak relevan secara duniawi sekaligus benar-benar percaya diri. Fokus bergeser dari pengakuan eksternal dan keberhasilan terukur ke hubungan intim dan batin dengan Yesus, Allah yang menjelma.

Mengenal hati Allah. Di dunia yang penuh kesepian, sangat dibutuhkan pemimpin yang mengenal hati Allah—hati yang penuh kasih tanpa syarat, pengampunan, dan penyembuhan, tanpa kecurigaan atau dendam. “Kasih pertama” ini, seperti yang digambarkan Yohanes, bebas dari bayangan dan tak terbatas, berbeda dengan “kasih kedua” yang seringkali patah dan bersyarat dari hubungan manusia. Hati Yesus adalah inkarnasi kasih pertama yang murni ini.

Penyembuhan melalui kasih. Mengenal dan mengasihi Yesus berarti hidup dengan kesadaran bahwa “Engkau dikasihi. Tak ada alasan untuk takut.” Kabar baik radikal ini, bila benar-benar dihayati, secara alami membawa penyembuhan, rekonsiliasi, dan harapan. Keinginan akan relevansi dan kesuksesan duniawi memudar, digantikan oleh hasrat tunggal untuk memberitakan kasih Allah tanpa syarat kepada semua, berakar pada keyakinan aman bahwa kita dicintai terlebih dahulu.

4. Disiplin Doa Kontemplatif

Seorang mistikus adalah orang yang identitasnya berakar dalam kasih pertama Allah.

Berakar dalam kehadiran Allah. Untuk hidup berlabuh pada kasih pertama Allah, bebas dari keinginan relevansi, pemimpin Kristen harus menjadi mistikus. Ini membutuhkan disiplin doa kontemplatif, tinggal terus-menerus dalam kehadiran Dia yang bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Praktik ini mencegah pemimpin terseret oleh masalah mendesak, menjadi asing bagi hati sendiri dan Allah.

Melampaui perdebatan moral. Doa kontemplatif menjaga pemimpin “di rumah,” berakar dan aman, memperdalam pengetahuan akan kebebasan dan keterikatan mereka pada Allah, meski di tengah kekacauan. Ini menggeser kepemimpinan Kristen dari perdebatan moral yang sering mirip pertarungan politik demi kekuasaan, menjadi dasar mistik. Perdebatan tentang isu seperti penahbisan atau seksualitas, bila berakar pada kasih pertama Allah, berubah dari pertarungan benar-salah menjadi pencarian rohani akan kebenaran.

Kebijaksanaan dan keberanian. Masa depan kepemimpinan Kristen menuntut pria dan wanita Allah yang bersemangat tinggal dalam kehadiran-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan merasakan kebaikan-Nya. Melalui doa kontemplatif, pemimpin belajar mendengar suara kasih, menemukan kebijaksanaan dan keberanian untuk menghadapi isu kompleks. Berakar ini memungkinkan mereka tetap lentur tanpa relativisme, yakin tanpa kekakuan, dan menjadi saksi sejati tanpa manipulasi.

5. Dari Kepopuleran Individu ke Pelayanan Bersama

Yesus menolak menjadi pesulap. Ia tidak datang untuk berjalan di atas bara api, menelan api, atau memasukkan tangan ke mulut singa demi membuktikan sesuatu yang berharga.

Menolak kepahlawanan solo. Kepindahan Nouwen ke L'Arche menantang pendekatan individualistiknya dalam pelayanan, di mana ia merasa seperti “seniman tali” yang mencari tepuk tangan. Ia menyadari pelayanan bukan pertunjukan tunggal, melainkan pengalaman bersama, di mana akuntabilitas dan kehadiran komunitas sangat penting. Yesus juga menolak godaan menjadi spektakuler, melemparkan diri dari bait suci demi tepuk tangan, memilih untuk tidak membuktikan diri.

Pelayanan dalam komunitas. Gereja sering mencerminkan penekanan masyarakat pada kepopuleran dan kepahlawanan individu, mengharapkan pelayan “melakukan semuanya sendiri.” Namun Yesus mengutus murid-murid-Nya “berdua-dua,” menekankan pelayanan bersama. Kebijaksanaan ilahi ini memudahkan orang mengenali bahwa pelayan bukan datang atas nama sendiri, melainkan atas nama Tuhan Yesus, mendorong pemberitaan Injil secara kolektif.

Kerentanan bersama. Pelayanan sejati, seperti yang dicontohkan Yesus, bukan hanya komunal tapi juga saling berbagi. Bukan layanan satu arah dari “profesional” ke “klien,” melainkan hubungan di mana pemimpin adalah saudara dan saudari yang rentan, saling mengenal dan dikenal, saling peduli dan dipedulikan, saling mengampuni dan diampuni. Mengorbankan hidup berarti membuka iman, keraguan, sukacita, dan kesedihan kepada sesama, menyadari bahwa kita semua adalah orang-orang yang patah dan butuh perhatian.

6. Kekuatan Penyembuhan Pengakuan dan Pengampunan

Bagaimana orang bisa benar-benar peduli pada gembalanya dan menjaga mereka setia pada tugas suci jika mereka tidak mengenal mereka dan karenanya tidak bisa mengasihi mereka dengan mendalam?

Mengatasi isolasi. Untuk melawan godaan kepahlawanan individual, pemimpin masa depan membutuhkan disiplin pengakuan dan pengampunan. Pelayan sering menyembunyikan kerentanannya, mencari penghiburan dari orang asing yang jauh daripada dalam komunitas sendiri. Isolasi ini menimbulkan kesepian emosional yang dalam, kebutuhan akan keintiman, dan perpecahan antara pergumulan pribadi dan kabar baik yang mereka sampaikan.

Menghidupi Inkarnasi. Ketika spiritualitas terlepas dari tubuh, bisa menimbulkan “karnalitas”—pencarian putus asa akan kasih sayang dan keintiman di luar komunitas sehat. Pengakuan dan pengampunan adalah disiplin yang memungkinkan pemimpin menghidupi Inkarnasi, mengintegrasikan tubuh dan roh dalam tubuh komunitas. Kuasa gelap dibawa ke terang melalui pengakuan, dan integrasi baru dimungkinkan melalui pengampunan.

Ruang aman untuk penyembuhan. Meski tidak menganjurkan pengakuan dosa secara publik secara eksplisit, Nouwen menekankan bahwa pelayan harus menjadi anggota komunitas yang penuh dan bertanggung jawab, melayani dengan seluruh diri yang terluka. Seperti komunitas penyembuhan seperti Alcoholics Anonymous, gereja perlu menyediakan ruang aman di mana pemimpin dapat berbagi luka dan pergumulan terdalam dengan mereka yang dapat membimbing lebih dalam ke dalam kasih Allah, mendorong dukungan dan kesetiaan bersama.

7. Menolak Kekuasaan demi Kepemimpinan yang Rendah Hati

Tampaknya lebih mudah menjadi Tuhan daripada mengasihi Tuhan, lebih mudah mengendalikan orang daripada mengasihi orang, lebih mudah memiliki hidup daripada mengasihi hidup.

Godaan kekuasaan. Kepindahan Nouwen ke L'Arche menghancurkan keinginannya untuk mengendalikan, memperlihatkan bahwa kepemimpinannya masih berakar pada keinginan mengatur situasi kompleks. Godaan ketiga Yesus—menerima semua kerajaan dunia—menyoroti perjuangan sejarah gereja dengan kekuasaan. Pemimpin sering memilih kekuasaan politik, militer, ekonomi, atau moral, membenarkan penggunaannya demi pelayanan Tuhan, yang berujung pada perang salib, inkuisisi, dan manipulasi.

Kekuasaan sebagai pengganti kasih. Daya tarik kekuasaan adalah janji pengganti mudah untuk tugas sulit mengasihi. Lebih mudah mengendalikan daripada mengasihi, memiliki hidup daripada merangkulnya dengan kerentanan. Godaan ini paling kuat saat keintiman menjadi ancaman, membuat banyak “pembangun kekaisaran” Kristen memilih kontrol daripada mengembangkan hubungan intim yang sehat. Namun Yesus mengosongkan diri, tidak melekat pada kuasa ilahi, melainkan mengambil rupa seorang hamba.

Jalan salib. Sejarah panjang dan menyakitkan gereja ditandai oleh pemimpin yang berulang kali memilih kekuasaan daripada kasih, kontrol daripada salib. Orang kudus sejati adalah mereka yang menolak godaan ini, memberi harapan. Kepemimpinan Kristen masa depan harus meninggalkan kekuasaan dan kontrol, merangkul ketidakberdayaan dan kerendahan hati, menampakkan hamba yang menderita, Yesus Kristus. Ini bukan kelemahan psikologis, melainkan kasih mendalam pada Yesus yang percaya pada bimbingan-Nya.

8. Kedewasaan: Kesediaan untuk Dipimpin

Yesus memiliki visi kedewasaan yang berbeda: Kemampuan dan kesediaan untuk dipimpin ke tempat yang sebenarnya tidak ingin kau tuju.

Mobilitas ke bawah. Kata-kata Yesus kepada Petrus—“Ketika engkau tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawamu ke tempat yang tidak kau kehendaki”—mengungkapkan visi kedewasaan yang radikal berbeda. Bukan mobilitas ke atas dan pengendalian diri, melainkan kesediaan dipimpin ke tempat yang tidak dikenal, tidak diinginkan, dan menyakitkan, yang akhirnya berakhir di salib. Jalan ini, meski tampak suram, membawa sukacita dan damai Allah.

Kepemimpinan tanpa kuasa. Kualitas terpenting kepemimpinan Kristen masa depan bukan kekuasaan dan kontrol, melainkan ketidakberdayaan dan kerendahan hati. Ini bukan menjadi korban pasif, melainkan kepemimpinan rohani yang terus-menerus meninggalkan kuasa demi kasih. Pemimpin yang sangat mengasihi Yesus siap mengikuti Dia ke mana pun Dia memimpin, percaya bahwa bersama-Nya mereka akan menemukan hidup berkelimpahan.

Gereja yang miskin. Pemimpin Kristen masa depan harus “sangat miskin,” berjalan hanya dengan tongkat, bergantung pada respons mereka yang dilayani. Kekayaan dan harta menghalangi kemampuan membedakan jalan Yesus, menjerumuskan orang ke dalam kehancuran. Harapan gereja terletak pada gereja yang miskin, di mana pemimpin bersedia dipimpin, mewujudkan jalan rendah hati Yesus dan membiarkan Roh memimpin mereka.

9. Disiplin Refleksi Teologis yang Keras

Refleksi teologis yang keras akan memungkinkan kita membedakan dengan kritis ke mana kita dipimpin.

Berpikir dengan pikiran Kristus. Untuk hidup dengan tangan terulur dan dipimpin, pemimpin Kristen memerlukan disiplin refleksi teologis yang keras. Ini bukan sekadar pelatihan intelektual atau penerapan ilmu perilaku, melainkan berpikir dengan pikiran Kristus. Tanpanya, pemimpin berisiko menjadi pseudo-psikolog atau pekerja sosial, menawarkan mekanisme koping sekuler daripada kepemimpinan Kristen yang berakar pada kuasa Yesus membebaskan manusia dari kematian.

Membedakan kehadiran Allah. Refleksi teologis memungkinkan pemimpin membedakan tindakan Allah dalam sejarah manusia, melihat peristiwa pribadi, komunal, dan global sebagai kairos—kesempatan dipimpin lebih dalam ke hati Kristus. Mereka harus mengartikulasikan iman pada kehadiran nyata Allah, menolak fatalisme, keputusasaan, dan penyerahan sentimental. Tugas mereka adalah mengumumkan bagaimana Yesus memimpin umat Allah keluar dari perbudakan menuju tanah kebebasan baru.

Pembentukan di seminari. Kepemimpinan teologis ini menuntut pembentukan rohani mendalam di seminari dan sekolah teologi, melatih individu dalam pembedaaan tanda zaman yang sejati. Ini adalah pembentukan dalam pikiran Kristus, yang mengosongkan diri daripada melekat pada kuasa. Meski dunia kompetitif menentang, pembentukan ini vital bagi gereja abad dua puluh satu, memungkinkan pemimpin mendengar suara lembut Allah di tengah kebisingan dunia.

10. Kerentanan Bersama: Inti Pelayanan Sejati

Lalu saya menyadari kebenaran penuh dari kata-kata Yesus, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).

Kehadiran transformatif Bill. Presentasi Nouwen di Washington, D.C., bersama Bill Van Buren, seorang pria berkebutuhan khusus dari L'Arche, dengan jelas menggambarkan inti pelayanan bersama yang rentan. Interupsi spontan Bill dan kehadirannya yang sederhana meluluhkan suasana formal, mengingatkan Nouwen bahwa ide-idenya bukan baru dan mengundang audiens ke dalam keintiman kehidupan bersama mereka. Partisipasi Bill mengubah ceramah tunggal menjadi pengalaman bersama.

“Kami melakukannya bersama.” Penegasan berulang Bill, “Kita melakukan ini bersama, bukan?” dan kegembiraannya atas “pidato” sendiri menyoroti kebenaran mendalam bahwa pelayanan bukan tentang penampilan individu, melainkan kehadiran bersama. Nouwen menyadari bahwa meski kata-katanya mungkin terlupakan, pengalaman dia dan Bill “melakukannya bersama” tidak akan hilang. Ini mewujudkan visi Yesus mengutus murid berdua-dua, menjadikan kehadiran-Nya nyata melalui perjalanan bersama mereka.

Pemimpin yang berdoa, rentan, dan percaya. Perjalanan bersama Bill menguatkan keyakinan Nouwen bahwa pemimpin Kristen masa depan adalah orang dengan tangan terulur, memilih mobilitas ke bawah. Pemimpin ini berdoa, rentan, dan percaya, beralih dari kekhawatiran tentang relevansi, popularitas, dan kekuasaan ke kehidupan yang berakar pada doa, pelayanan komunal, dan pembedaaan teologis. Visi kuno ini, terwujud kembali, menawarkan harapan, keberanian, dan keyakinan untuk abad baru.

Terakhir diperbarui:

Report Issue

Ringkasan Ulasan

4.31 dari 5
Rata-rata dari 13.000+ penilaian dari Goodreads dan Amazon.

Dalam Nama Yesus karya Henri Nouwen menghadirkan visi kepemimpinan Kristen yang kuat dan rendah hati, berakar pada doa, kerentanan, dan komunitas. Buku ini secara konsisten dipuji sebagai bacaan penting yang menantang para pemimpin untuk menolak godaan relevansi, popularitas, dan kekuasaan. Sebaliknya, Nouwen mengajak pada "mobilitas ke bawah"—memilih kasih daripada kontrol dan menjadi "sama sekali tidak relevan" dengan hanya menawarkan diri yang rentan. Buku singkat ini, ditulis setelah Nouwen meninggalkan dunia akademis untuk bergabung dengan L'Arche, digambarkan sebagai karya yang sangat menggugah sekaligus menyegarkan, dengan banyak pembaca yang kembali membacanya setiap tahun sebagai pijakan rohani dan pengingat tentang memimpin melalui kepemimpinan yang diarahkan.

Your rating:
4.57
61 penilaian
Want to read the full book?

Tentang Penulis

Henri Jozef Machiel Nouwen (1932-1996) adalah seorang imam Katolik Belanda, teolog, psikolog, dan penulis spiritual yang memberikan pengaruh mendalam pada spiritualitas Kristen kontemporer. Ia pernah mengajar di Notre Dame, Yale, dan Harvard sebelum menemukan panggilan terdalamnya di L'Arche Daybreak, Ontario, di mana ia melayani orang-orang dengan disabilitas intelektual. Nouwen menulis lebih dari tiga puluh buku yang membahas kesepian, identitas, dan rasa memiliki melalui kerentanan pribadi. Karya-karyanya, termasuk The Wounded Healer dan The Return of the Prodigal Son, memiliki resonansi yang luas di berbagai denominasi. Meskipun bergulat dengan depresi dan pergulatan identitas, keterbukaannya mengubah konflik pribadi menjadi wawasan spiritual bersama, menjadikannya salah satu penulis spiritual paling dicintai pada abad kedua puluh.

Follow
Dengarkan
Now playing
Dalam Nama Yesus
0:00
-0:00
Now playing
Dalam Nama Yesus
0:00
-0:00
1x
Queue
Home
Swipe
Library
Get App
Try Full Access for 3 Days
Listen, bookmark, and more
Compare Features Free Pro
📖 Read Summaries
Read unlimited summaries. Free users get 3 per month
🎧 Listen to Summaries
Listen to unlimited summaries in 40 languages
❤️ Unlimited Bookmarks
Free users are limited to 4
📜 Unlimited History
Free users are limited to 4
📥 Unlimited Downloads
Free users are limited to 1
Risk-Free Timeline
Hari Ini: Dapatkan Akses Instan
Dengarkan ringkasan lengkap dari 26.000+ buku. Itu 12.000+ jam audio!
Hari ke-2: Pengingat Uji Coba
Kami akan mengirimkan notifikasi bahwa uji coba Anda akan segera berakhir.
Hari ke-3: Langganan Anda dimulai
Anda akan dikenakan biaya pada Jun 14,
batalkan kapan saja sebelumnya.
Consume 2.8× More Books
2.8× more books Listening Reading
Our users love us
600,000+ readers
Trustpilot Rating
TrustPilot
4.6 Excellent
This site is a total game-changer. I've been flying through book summaries like never before. Highly, highly recommend.
— Dave G
Worth my money and time, and really well made. I've never seen this quality of summaries on other websites. Very helpful!
— Em
Highly recommended!! Fantastic service. Perfect for those that want a little more than a teaser but not all the intricate details of a full audio book.
— Greg M
Save 62%
Yearly
$119.88 $44.99/year/yr
$3.75/mo
Monthly
$9.99/mo
Start a 3-Day Free Trial
3 days free, then $44.99/year. Cancel anytime.
Unlock a world of fiction & nonfiction books
26,000+ books for the price of 2 books
Read any book in 10 minutes
Discover new books like Tinder
Request any book if it's not summarized
Read more books than anyone you know
#1 app for book lovers
Lifelike & immersive summaries
30-day money-back guarantee
Download summaries in EPUBs or PDFs
Cancel anytime in a few clicks
Scanner
Find a barcode to scan

We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel
Settings
General
Widget
Loading...
We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel