Mulai uji coba gratis
Searching...
SoBrief
Bahasa Indonesia
EnglishEnglish
EspañolSpanish
简体中文Chinese
繁體中文Chinese (Traditional)
FrançaisFrench
DeutschGerman
日本語Japanese
PortuguêsPortuguese
ItalianoItalian
한국어Korean
РусскийRussian
NederlandsDutch
العربيةArabic
PolskiPolish
हिन्दीHindi
Tiếng ViệtVietnamese
SvenskaSwedish
ΕλληνικάGreek
TürkçeTurkish
ไทยThai
ČeštinaCzech
RomânăRomanian
MagyarHungarian
УкраїнськаUkrainian
Bahasa IndonesiaIndonesian
DanskDanish
SuomiFinnish
БългарскиBulgarian
עבריתHebrew
NorskNorwegian
HrvatskiCroatian
CatalàCatalan
SlovenčinaSlovak
LietuviųLithuanian
SlovenščinaSlovenian
СрпскиSerbian
EestiEstonian
LatviešuLatvian
فارسیPersian
മലയാളംMalayalam
தமிழ்Tamil
اردوUrdu
Manusia Kecil, Emosi Besar

Manusia Kecil, Emosi Besar

Cara Mengatasi Tantrum, Ledakan Emosi, dan Pembangkangan untuk Membesarkan Anak yang Cerdas Emosional
oleh Alyssa Blask Campbell 2023 304 halaman
4.07
4.000+ penilaian
Dengarkan
Coba Akses Penuh Selama 3 Hari
Buka fitur mendengarkan & lainnya!
Lanjutkan

Poin Penting

1. Kecerdasan Emosional: Dasar untuk Kehidupan yang Memuaskan

Saya ingin mereka memiliki alat untuk menghadapi dan memproses hal-hal sulit yang tak terhindarkan agar mereka bisa menjalani hidup yang terasa terhubung, penuh kasih, dan penuh rasa ingin tahu.

Lebih dari Sekadar Kebahagiaan. Keinginan agar anak-anak bahagia memang wajar, namun hidup pasti menghadirkan tantangan dan emosi yang sulit. Kecerdasan emosional membekali seseorang dengan kemampuan untuk menghadapi kompleksitas tersebut, menumbuhkan ketahanan dan kesejahteraan. Ini tentang mengembangkan kapasitas untuk memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara efektif.

Lima Komponen Utama. Kecerdasan emosional meliputi kesadaran diri, pengaturan diri, empati, motivasi, dan keterampilan sosial. Kelima komponen ini bekerja bersama agar seseorang dapat membangun hubungan yang kuat, mencapai tujuan, dan menjalani hidup yang memuaskan. Mengembangkan keterampilan ini sejak dini memberikan fondasi yang kokoh untuk kesuksesan di masa depan.

Visi untuk Masa Depan. Para penulis membayangkan masa depan di mana komunitas yang cerdas secara emosional mengedepankan dialog, keberagaman, dan kasih sayang. Dalam dunia ini, individu merasa nyaman dengan emosi mereka sendiri maupun orang lain, sehingga tercipta lebih banyak pengertian, rasa hormat, dan kolaborasi. Visi ini menegaskan pentingnya menumbuhkan kecerdasan emosional pada anak-anak.

2. Peran Anda: Membentuk Perkembangan Emosional Melalui Keterikatan

Peran kita dalam kehidupan anak sangat penting. Kita membentuk dasar bagaimana mereka akan berinteraksi dalam hubungan dengan orang lain.

Warisan Berkah dan Beban. Setiap generasi mewariskan campuran pengalaman positif dan negatif yang membentuk lanskap emosional generasi berikutnya. Menyadari warisan ini memungkinkan orang tua memilih dengan sadar pola mana yang akan diteruskan dan mana yang harus diputus, demi perkembangan emosional yang lebih sehat. Ini seperti estafet warisan berkah dan beban.

Gaya Keterikatan. Teori keterikatan menyoroti pentingnya hubungan yang aman dalam mendukung kesejahteraan emosional. Keterikatan yang aman, ditandai dengan rasa aman, nyaman, dan responsif, menjadi fondasi bagi anak untuk menjelajahi dunia dan membangun hubungan yang sehat. Pengasuh dapat mengupayakan keterikatan yang aman dengan hadir, peka, dan responsif terhadap kebutuhan anak.

Lebih dari Kesempurnaan. Tujuannya bukan menjadi orang tua yang sempurna, melainkan menjadi orang tua yang cukup baik yang menyediakan lingkungan aman dan mendukung pertumbuhan emosional anak. Mengenali pemicu pribadi dan perilaku yang sudah tertanam memungkinkan orang tua merespons dengan penuh pertimbangan dan kasih, bukan bereaksi secara otomatis. Kesadaran diri ini kunci untuk memutus siklus negatif dan menumbuhkan keterikatan yang aman.

3. Memahami Emosi: Koneksi Otak dan Tubuh

Anda tidak menjadi korban emosi yang muncul tanpa diundang untuk mengendalikan perilaku Anda. Anda adalah arsitek dari pengalaman-pengalaman ini.

Emosi yang Dibentuk. Emosi bukanlah pengalaman bawaan dan universal, melainkan konsep yang dibentuk melalui pengalaman individu dan konteks budaya. Pemahaman ini memberdayakan seseorang untuk mengambil kendali atas respons emosionalnya dan mengembangkan kesadaran diri yang lebih besar. Ini adalah pengalaman penciptaan makna yang melibatkan banyak bagian otak.

Peran Sistem Saraf. Sistem saraf terus-menerus memindai lingkungan untuk ancaman, memicu respons fisiologis yang mempersiapkan tubuh untuk bertindak. Memahami cara kerja sistem saraf memungkinkan seseorang mengisi ulang energi dan mengatur respons terhadap stres secara proaktif. Teknik perawatan diri proaktif seperti terapi, mengakses bantuan makanan, pertemuan kelompok, atau tetap terhubung dengan komunitas spiritual adalah contohnya.

Segitiga Pertumbuhan. Regulasi sensorik menjadi dasar Segitiga Pertumbuhan, diikuti oleh regulasi emosional dan keterampilan komunikasi. Saat mengalami disfungsi regulasi, memprioritaskan regulasi sensorik membantu menenangkan sistem saraf, sehingga fungsi kognitif tingkat tinggi dapat diakses. Pendekatan ini menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan tubuh sebelum mencoba berpikir atau memecahkan masalah.

4. Pemrosesan Emosi Kolaboratif (CEP): Metode untuk Pertumbuhan

Pemrosesan Emosi Kolaboratif adalah cara mengajarkan dan belajar merasakan sesuatu bersama orang lain yang membangun keterampilan jangka panjang untuk kecerdasan emosional.

Belajar Melalui Kolaborasi. CEP menekankan pembelajaran keterampilan kecerdasan emosional melalui interaksi dan pengalaman, bukan sekadar menghafal informasi. Pendekatan kolaboratif ini mengakui pentingnya koneksi manusia dalam menumbuhkan pertumbuhan emosional. Ini tentang bekerja bersama untuk membangun keterampilan jangka panjang.

Roda CEP. Roda CEP menyoroti lima komponen utama metode ini: kesadaran penuh, kesadaran diri, perawatan diri, pengetahuan ilmiah, dan interaksi dewasa-anak. Representasi visual ini menekankan pentingnya memperhatikan kesejahteraan emosional orang dewasa, serta anak. Empat komponen lainnya berpusat pada orang dewasa.

Lima Tahap Pemrosesan Emosi. Lima tahap pemrosesan emosi memberikan kerangka kerja untuk menghadapi emosi besar: membiarkan, mengenali, merasa aman, mencari dukungan, dan melanjutkan. Tahap-tahap ini membimbing individu melalui proses mengalami dan mengintegrasikan emosi, membangun ketahanan dan kesadaran diri. Mereka membantu orang dewasa pendukung menjawab pertanyaan “Apa yang bisa saya ajarkan sekarang yang mungkin sudah siap diterima anak?”

5. Respons Saat Ini: Menenangkan Sebelum Mengajar

Ketika orang merasa aman, otak rasional mereka (korteks prefrontal) dapat diakses, dan mereka siap untuk belajar.

Menenangkan vs. Mengajar. Dalam momen disfungsi regulasi, tujuan utama adalah menenangkan sistem saraf anak, menciptakan rasa aman dan nyaman. Mencoba mengajar atau beralasan dengan anak yang sedang tidak teratur emosinya seringkali tidak efektif karena otak rasional mereka belum sepenuhnya dapat diakses. Kita bisa mengajar nanti.

Segitiga Pertumbuhan. Segitiga Pertumbuhan menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan sensorik sebelum mencoba mengatur emosi atau berkomunikasi. Memberikan rangsangan sensorik, seperti tekanan dalam atau gerakan, dapat membantu menenangkan sistem saraf dan menciptakan fondasi untuk belajar. Sistem sensorik dulu.

Ko-regulasi. Ko-regulasi melibatkan menghubungkan diri dengan anak dan membantu mereka menenangkan diri, memberikan rasa aman dan nyaman. Ini bisa berupa sentuhan fisik, kata-kata lembut, atau sekadar hadir dan peka terhadap kebutuhan mereka. Ini tentang membantu mereka merasa aman agar dapat mengakses keterampilan regulasi emosional dan komunikasi.

6. Menetapkan Batasan: Menciptakan Keamanan dan Kenyamanan

Tugas kita adalah menetapkan batasan, dan tugas anak adalah mengujinya, untuk melihat apakah batasan itu nyata, untuk melihat apakah kita benar-benar akan menjaga mereka tetap aman.

Batasan vs. Ancaman. Batasan berkaitan dengan kekuatan pribadi dan apa yang Anda rela terima, sementara ancaman berkaitan dengan kekuasaan dan kontrol atas orang lain. Batasan yang jelas disertai konsekuensi yang konsisten menciptakan rasa aman dan dapat diprediksi bagi anak. Batasan bekerja bersama konsekuensi, memberi tahu seseorang apa yang akan terjadi jika batasan itu dilanggar.

Konsistensi adalah Kunci. Batasan yang konsisten membantu otak mengetahui apa yang diharapkan, menciptakan rasa aman dan dapat diprediksi. Tugas kita adalah menetapkan batasan dan tugas mereka adalah penasaran kapan kita akan menegakkannya.

Menemukan Kata Ya. Saat menetapkan batasan, penting juga menawarkan perilaku alternatif atau pilihan yang memungkinkan anak mengekspresikan kebutuhan dan keinginan mereka dengan cara yang tepat. Pendekatan ini membantu anak merasa diberdayakan dan dipahami, sambil tetap menjaga batasan yang jelas. Kita bisa menemukan kata ya.

7. Membicarakan Perilaku: Menumbuhkan Tanggung Jawab dan Empati

Anak-anak membutuhkan bantuan kita, respons yang disengaja, untuk membangun kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan keterampilan sosial yang memberi mereka kemampuan dan kepercayaan diri untuk melakukan hal berbeda di lain waktu.

Waktu adalah Segalanya. Waktu paling efektif untuk membicarakan perilaku adalah saat anak tenang dan teratur emosinya, sehingga mereka dapat mengakses otak rasionalnya. Mencoba beralasan atau memberi ceramah pada anak yang sedang tidak teratur emosinya seringkali kontraproduktif. Anak-anak butuh bantuan kita, respons yang disengaja, untuk membangun kesadaran diri, pengaturan diri, empati, dan keterampilan sosial yang memberi mereka kemampuan dan kepercayaan diri untuk melakukan hal berbeda di lain waktu.

Harga Diri vs. Rasa Malu. Penting untuk membahas perilaku dengan cara yang menumbuhkan harga diri, bukan rasa malu. Fokus pada tindakan spesifik, bukan menilai karakter anak. Ingat, harga diri berkaitan dengan perilaku. Rasa malu berkaitan dengan pribadi.

Kekuatan Menjadi Teladan. Anak belajar dengan mengamati orang dewasa di sekitarnya. Menjadi teladan dalam komunikasi sehat, regulasi emosional, dan empati memberikan contoh kuat bagi anak untuk diikuti. Ini tentang menunjukkan bahwa menyakiti orang lain tidak boleh tanpa merusak harga diri mereka.

8. Strategi Proaktif: Mencegah Ledakan Emosi Sebelum Terjadi

Kita adalah detektif yang berusaha mencari cara terbaik mengisi ulang energi kita dan anak-anak sepanjang hari, dan kita semua memiliki colokan yang sedikit berbeda.

Pengisian Ulang Proaktif. Strategi proaktif, seperti rutinitas yang dapat diprediksi, akses tidur, istirahat otak, permainan fisik besar, dan latihan gerak/keseimbangan, membantu mengisi ulang sistem saraf dan mencegah kelebihan rangsangan sensorik. Strategi ini ibarat "makanan" dan "cemilan" sensorik yang menjaga baterai agar tidak habis.

Memahami Kebutuhan Sensorik. Setiap individu memiliki kebutuhan dan preferensi sensorik yang unik. Mencoba berbagai aktivitas dan rangsangan membantu menemukan apa yang paling cocok untuk setiap anak, memungkinkan dukungan yang dipersonalisasi. Butuh coba-coba untuk mengetahui apa yang terbaik bagi Anda atau anak Anda.

Pentingnya Prediktabilitas. Rutinitas yang dapat diprediksi dan harapan yang konsisten menciptakan rasa aman dan nyaman, mengurangi kecemasan dan mendukung regulasi emosional. Mengetahui apa yang akan terjadi membuat sistem saraf merasa tenang.

9. Menavigasi Dinamika Multi-Anak: Menyeimbangkan Kebutuhan Individu

Kita dirancang untuk saling mengambil energi dan memulihkan energi melalui satu sama lain.

Ajak untuk Menonton. Manfaatkan rasa ingin tahu alami anak terhadap emosi orang lain dengan menciptakan kesempatan "Ayo Tonton". Ini melibatkan membiarkan anak mengamati dan belajar dari pengalaman emosional satu sama lain, menumbuhkan empati dan pengertian. Ini tentang membantu mereka belajar melihat dan dilihat.

Mengatasi Konflik. Saat konflik muncul antar anak, prioritaskan keamanan dan regulasi sebelum mencoba memecahkan masalah. Validasi perspektif masing-masing anak dan pandu mereka melalui Tahap Pemrosesan Emosi, menumbuhkan keterampilan komunikasi dan penyelesaian konflik.

Dukungan yang Disesuaikan. Sadari bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan preferensi unik. Sesuaikan pendekatan Anda untuk memenuhi kebutuhan individu mereka, bukan menerapkan solusi satu ukuran untuk semua. Ini bisa melibatkan memberikan tingkat dukungan berbeda, menyesuaikan harapan, atau menawarkan strategi koping yang dipersonalisasi.

10. Menumbuhkan Empati: Membangun Koneksi dan Kasih Sayang

Empati adalah merasakan bersama orang lain.

Empati vs. Simpati. Empati melibatkan merasakan bersama seseorang, sedangkan simpati adalah merasa kasihan pada mereka. Empati membutuhkan kemampuan melihat dari sudut pandang lain, menghindari penilaian, mengenali emosi, dan mengkomunikasikan pengertian. Ini sulit karena mengharuskan kita melepaskan keinginan untuk menghibur saat seseorang sedang menderita atau berusaha memberi alasan mengapa situasinya tidak terlalu buruk atau bisa lebih parah.

Menjadi Teladan Empati. Cara paling ampuh mengajarkan empati adalah dengan mencontohkannya dalam interaksi Anda sendiri. Ini melibatkan mendengarkan secara aktif, memvalidasi emosi, dan merespons dengan kasih. Ini sulit karena mengharuskan kita melepaskan keinginan untuk menghibur saat seseorang sedang menderita atau berusaha memberi alasan mengapa situasinya tidak terlalu buruk atau bisa lebih parah.

Mengatasi Bias Implisit. Bias tak sadar dapat memengaruhi cara kita memandang dan merespons emosi anak. Mengungkap dan mengatasi bias ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang adil dan inklusif. Ini tentang membantu Anda menyelaraskan dengan pengetahuan batin Anda, seperti yang disebut Glennon Doyle dalam bukunya Untamed, agar dapat membuat pilihan sadar, bukan bertindak berdasarkan kebiasaan.

11. Menavigasi Transisi: Mendukung Perubahan dengan Kecerdasan Emosional

Saat kita dalam masa transisi, kita paling benar-benar hidup.

Mengakui dan Memvalidasi. Transisi bisa menjadi tantangan bagi anak, memicu berbagai emosi. Mengakui dan memvalidasi perasaan ini sangat penting untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Ini tentang membantu Anda menyelaraskan dengan pengetahuan batin Anda, seperti yang disebut Glennon Doyle dalam bukunya Untamed, agar dapat membuat pilihan sadar, bukan bertindak berdasarkan kebiasaan.

Memberikan Prediktabilitas. Alat bantu visual, seperti kalender dan jadwal, dapat membantu anak memahami dan mengantisipasi perubahan yang akan datang. Alat ini memberikan rasa kontrol dan mengurangi kecemasan. Ketika sistem saraf kita tahu apa yang akan terjadi, ia merasa tenang dan aman.

Menjaga Konsistensi. Saat masa transisi, penting untuk mempertahankan batasan dan rutinitas yang konsisten. Ini memberikan rasa stabilitas dan prediktabilitas, membantu anak menghadapi perubahan dengan lebih mudah. Ini adalah proses mengenali saat kita melakukan kesalahan dan mengakuinya serta/atau merasa termotivasi untuk berubah.

12. Masa Depan yang Cerdas Emosional: Visi untuk Dunia yang Lebih Baik

Saya belajar bahwa orang akan lupa apa yang Anda katakan, orang akan lupa apa yang Anda lakukan, tapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana Anda membuat mereka merasa.

Kekuatan Koneksi. Perilaku kita memicu emosi pada orang lain, menciptakan efek riak yang dapat berdampak positif atau negatif pada hari mereka. Dengan mengutamakan kecerdasan emosional, kita dapat memberikan kontribusi sosial yang positif dan menumbuhkan komunitas yang lebih penuh kasih. Bayangkan memiliki kesadaran diri yang seimbang dan saling bertukar dengan orang-orang tercinta dan rekan kerja Anda.

Dunia yang Penuh Pengertian. Bayangkan dunia di mana kita bisa merasakan perasaan kita tanpa tenggelam di dalamnya karena kita memiliki alat untuk mengatur dan memprosesnya. Bagaimana rasanya menjalani hidup di mana Anda aman untuk merasakan, dan orang lain tidak mencoba menghentikan perasaan Anda karena takut atau tidak nyaman?

Memberdayakan Generasi Mendatang. Dengan menumbuhkan kecerdasan emosional pada anak-anak, kita membekali mereka dengan keterampilan untuk menghadapi tantangan, membangun hubungan yang kuat, dan menciptakan dunia yang lebih penuh kasih dan pengertian. Visi ini mendorong kita untuk terlibat secara mendalam—bekerja bersama—dalam upaya ini.

Terakhir diperbarui:

Report Issue

Ringkasan Ulasan

4.07 dari 5
Rata-rata dari 4.000+ penilaian dari Goodreads dan Amazon.

Tiny Humans, Big Emotions menerima ulasan yang sebagian besar positif, dengan pembaca memuji pendekatannya terhadap kecerdasan emosional dan pengasuhan anak. Banyak yang menganggap metode Collaborative Emotion Processing (CEP) sangat membantu dan menghargai fokus pada refleksi diri. Para pengulas menyoroti nasihat praktis dalam buku ini, dasar ilmiahnya, serta penekanan pada pemahaman emosi baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Beberapa pembaca mengakui bahwa buku ini terkadang terasa berlebihan atau berulang. Secara keseluruhan, buku ini direkomendasikan bagi para orang tua, pengasuh, dan pendidik yang ingin meningkatkan interaksi dengan anak serta mengelola emosi secara efektif.

Your rating:
4.49
577 penilaian
Want to read the full book?

FAQ

What's Tiny Humans, Big Emotions about?

  • Focus on Emotional Intelligence: The book emphasizes nurturing emotional intelligence in children from a young age, highlighting its importance in their development.
  • Collaborative Emotion Processing Method: Introduces the CEP method, which helps adults and children navigate emotions together, promoting emotional understanding and regulation.
  • Practical Guidance: Offers actionable advice for parents, teachers, and caregivers on responding to children's emotions and teaching emotional regulation.

Why should I read Tiny Humans, Big Emotions?

  • Empowerment for Caregivers: Equips caregivers with tools to foster emotional intelligence, crucial for children's development and emotional well-being.
  • Research-Based Insights: Combines the authors' experience in early childhood education with current research, providing a solid foundation for the methods presented.
  • Real-Life Applications: Includes relatable anecdotes and strategies that can be immediately applied in everyday situations with children.

What are the key takeaways of Tiny Humans, Big Emotions?

  • Understanding Emotions: Emphasizes recognizing and validating both adults' and children's emotions as complex and unique experiences.
  • CEP Method: Central theme focusing on modeling emotional intelligence and supporting children in processing their feelings through five phases.
  • Importance of Connection: Highlights the significance of empathy, secure attachments, and open communication in adult-child interactions.

What is the Collaborative Emotion Processing (CEP) method?

  • Definition of CEP: A framework for collaboratively processing emotions between adults and children, emphasizing emotional intelligence in relationships.
  • Five Phases of Emotion Processing: Includes allowing emotions, recognizing them, feeling secure, seeking support, and moving on, each building on the previous.
  • Focus on Adult Awareness: Encourages adults to reflect on their emotional responses to better support children, fostering a safe emotional environment.

How can I help my child process their emotions using the CEP method?

  • Allow Emotions to Exist: Create a safe space for your child to express feelings without judgment, encouraging emotional exploration.
  • Recognize and Validate: Use language that acknowledges their feelings, helping them feel understood and connected.
  • Introduce Coping Strategies: Teach coping strategies like deep breathing or physical activities, empowering them to manage emotions independently.

What are the five phases of emotion processing in the CEP method?

  • Phase 1: Allowing Emotions: Let emotions exist without suppression, creating a safe space for feelings.
  • Phase 2: Recognizing Emotions: Help children identify and label their emotions with words or symbols.
  • Phase 3: Feeling Secure: Develop a sense of security in experiencing emotions, understanding they are temporary and manageable.
  • Phase 4: Seeking Support: Focus on using coping strategies to manage emotions, guided by adults.
  • Phase 5: Moving On: Involves problem-solving or letting go of emotions, teaching children to navigate feelings and find resolution.

How do I set and hold boundaries with my child according to Tiny Humans, Big Emotions?

  • Clear Communication: Clearly state boundaries and consequences, ensuring children understand expectations.
  • Expect Boundary Testing: Recognize that testing boundaries is a natural part of development, requiring consistency.
  • Empathy and Connection: Acknowledge your child's feelings when enforcing boundaries, maintaining empathy and understanding.

What are some effective coping strategies for children suggested in Tiny Humans, Big Emotions?

  • Physical Activities: Encourage movement-based strategies like jumping or dancing to release energy and emotions.
  • Breathing Techniques: Teach deep breathing exercises to help children calm down, using simple phrases like “breathe in, breathe out.”
  • Creative Expression: Use art, music, or storytelling for emotional expression, providing a safe and constructive outlet.

How can I model emotional intelligence for my child?

  • Share Your Feelings: Be open about your emotions and coping methods, teaching children it's okay to express feelings.
  • Practice Mindfulness: Engage in mindfulness to stay present and aware of emotions, setting an example for children.
  • Use Empathy: Show empathy towards your child's feelings, fostering a strong emotional connection and encouraging empathy in return.

What role does empathy play in emotional intelligence according to Tiny Humans, Big Emotions?

  • Core Component: Empathy is crucial for connecting with others emotionally, alongside self-awareness, self-regulation, motivation, and social skills.
  • Fostering Connections: Helps children understand and relate to others' feelings, crucial for social skills and emotional development.
  • Modeling Empathy: Caregivers can teach empathy by demonstrating empathetic behavior, setting a foundation for children to express empathy.

How can I create a culture of empathy in my home?

  • Model Empathetic Behavior: Demonstrate empathy in daily interactions, using phrases that validate feelings and show understanding.
  • Encourage Perspective Taking: Teach children to consider others' feelings by asking questions about how someone else might feel.
  • Read Books About Emotions: Incorporate books exploring emotions and empathy, discussing characters' feelings and real-life connections.

What are the best quotes from Tiny Humans, Big Emotions and what do they mean?

  • “Emotions are not problems to be solved.”: Encourages acceptance and understanding of emotions rather than suppression or fixing.
  • “You are not at the mercy of emotions that arise unbidden to control your behavior.”: Empowers readers to manage emotions and responses, taking control of emotional experiences.
  • “The future is emotionally intelligent.”: Reflects the vision for a world prioritizing emotional intelligence, underscoring its importance for a better future.

Tentang Penulis

Alyssa Blask Campbell adalah seorang ahli dalam perkembangan anak dan kecerdasan emosional. Ia merupakan salah satu pendiri Seed & Sow, sebuah organisasi yang berfokus pada pengajaran Collaborative Emotion Processing (CEP). Karya Campbell menitikberatkan pada membantu orang dewasa memahami dan mengelola emosi mereka sendiri agar dapat mendukung pertumbuhan emosional anak dengan lebih baik. Pendekatannya menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak untuk merasakan dan memproses perasaan mereka. Keahliannya didasarkan pada penelitian mendalam serta pengalaman praktis dalam bidang pengasuhan dan pendidikan. Campbell memiliki semangat besar untuk memutus siklus generasi dan mendorong kesejahteraan emosional bagi anak-anak maupun orang dewasa.

Follow
Dengarkan
Now playing
Manusia Kecil, Emosi Besar
0:00
-0:00
Now playing
Manusia Kecil, Emosi Besar
0:00
-0:00
1x
Queue
Home
Swipe
Library
Get App
Try Full Access for 3 Days
Listen, bookmark, and more
Compare Features Free Pro
📖 Read Summaries
Read unlimited summaries. Free users get 3 per month
🎧 Listen to Summaries
Listen to unlimited summaries in 40 languages
❤️ Unlimited Bookmarks
Free users are limited to 4
📜 Unlimited History
Free users are limited to 4
📥 Unlimited Downloads
Free users are limited to 1
Risk-Free Timeline
Hari Ini: Dapatkan Akses Instan
Dengarkan ringkasan lengkap dari 26.000+ buku. Itu 12.000+ jam audio!
Hari ke-2: Pengingat Uji Coba
Kami akan mengirimkan notifikasi bahwa uji coba Anda akan segera berakhir.
Hari ke-3: Langganan Anda dimulai
Anda akan dikenakan biaya pada Jun 13,
batalkan kapan saja sebelumnya.
Consume 2.8× More Books
2.8× more books Listening Reading
Our users love us
600,000+ readers
Trustpilot Rating
TrustPilot
4.6 Excellent
This site is a total game-changer. I've been flying through book summaries like never before. Highly, highly recommend.
— Dave G
Worth my money and time, and really well made. I've never seen this quality of summaries on other websites. Very helpful!
— Em
Highly recommended!! Fantastic service. Perfect for those that want a little more than a teaser but not all the intricate details of a full audio book.
— Greg M
Save 62%
Yearly
$119.88 $44.99/year/yr
$3.75/mo
Monthly
$9.99/mo
Start a 3-Day Free Trial
3 days free, then $44.99/year. Cancel anytime.
Unlock a world of fiction & nonfiction books
26,000+ books for the price of 2 books
Read any book in 10 minutes
Discover new books like Tinder
Request any book if it's not summarized
Read more books than anyone you know
#1 app for book lovers
Lifelike & immersive summaries
30-day money-back guarantee
Download summaries in EPUBs or PDFs
Cancel anytime in a few clicks
Scanner
Find a barcode to scan

We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel
Settings
General
Widget
Loading...
We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel