Mulai uji coba gratis
Searching...
SoBrief
Bahasa Indonesia
EnglishEnglish
EspañolSpanish
简体中文Chinese
繁體中文Chinese (Traditional)
FrançaisFrench
DeutschGerman
日本語Japanese
PortuguêsPortuguese
ItalianoItalian
한국어Korean
РусскийRussian
NederlandsDutch
العربيةArabic
PolskiPolish
हिन्दीHindi
Tiếng ViệtVietnamese
SvenskaSwedish
ΕλληνικάGreek
TürkçeTurkish
ไทยThai
ČeštinaCzech
RomânăRomanian
MagyarHungarian
УкраїнськаUkrainian
Bahasa IndonesiaIndonesian
DanskDanish
SuomiFinnish
БългарскиBulgarian
עבריתHebrew
NorskNorwegian
HrvatskiCroatian
CatalàCatalan
SlovenčinaSlovak
LietuviųLithuanian
SlovenščinaSlovenian
СрпскиSerbian
EestiEstonian
LatviešuLatvian
فارسیPersian
മലയാളംMalayalam
தமிழ்Tamil
اردوUrdu
The Righteous Mind

The Righteous Mind

Mengapa Orang Baik Terpecah oleh Politik dan Agama
oleh 조나단 하이트 2012 530 halaman
4.19
66.000+ penilaian
Dengarkan
Coba Akses Penuh Selama 3 Hari
Buka fitur mendengarkan & lainnya!
Lanjutkan

Poin Penting

1. Intuisi datang terlebih dahulu, penalaran strategis menyusul

Sang penunggang (penalaran) bukanlah kusir platonis, melainkan semacam biro hubungan masyarakat penuh waktu bagi gajah (intuisi).

Model intuisi sosial menantang pandangan rasionalis tentang penilaian moral. Keputusan moral kita terutama didorong oleh intuisi cepat dan otomatis, sementara penalaran sering kali berfungsi sebagai pembenaran setelah kejadian. Hal ini menjelaskan fenomena seperti kebingungan moral, di mana seseorang kesulitan mengungkapkan alasan di balik penilaian moralnya.

Metafora gajah dan penunggang menggambarkan dinamika ini:

  • Gajah: Respon intuitif dan emosional
  • Penunggang: Pikiran sadar dan rasional
  • Peran utama penunggang: Membenarkan keputusan gajah

Model ini membantu menjelaskan mengapa:

  • Argumen moral sering terasa sia-sia
  • Orang jarang mengubah pendapat hanya berdasarkan logika
  • Menggunakan emosi sering lebih efektif dalam membujuk

2. Moralitas lebih dari sekadar bahaya dan keadilan

Kepedulian dan keadilan penting, tapi ada beberapa fondasi moral lain yang juga berarti bagi orang di seluruh dunia.

Teori Fondasi Moral memperluas pemahaman kita tentang moralitas di luar fokus Barat tradisional pada bahaya dan keadilan. Teori ini mengidentifikasi enam fondasi moral yang melekat dan universal:

  1. Kepedulian/kerugian
  2. Keadilan/penipuan
  3. Kesetiaan/pengkhianatan
  4. Otoritas/pemberontakan
  5. Kesucian/penurunan martabat
  6. Kebebasan/penindasan

Perbedaan budaya dalam moralitas muncul dari penekanan yang berbeda pada fondasi-fondasi ini. Misalnya:

  • Budaya WEIRD (Barat, Terdidik, Industrialisasi, Kaya, Demokratis) lebih menitikberatkan pada kepedulian dan keadilan
  • Budaya non-WEIRD sering memberi bobot sama atau lebih besar pada kesetiaan, otoritas, dan kesucian

Memahami perbedaan ini dapat membantu menjembatani kesenjangan budaya dan politik, karena memungkinkan kita mengenali kepedulian moral orang lain meski berbeda dengan kita.

3. Moralitas mengikat sekaligus membutakan

Moralitas mengikat kita ke dalam tim ideologis yang saling berperang seolah nasib dunia bergantung pada kemenangan pihak kita di setiap pertempuran.

Moralitas sebagai perekat sosial memegang peranan penting dalam masyarakat manusia dengan:

  • Mendorong kerja sama dalam kelompok
  • Menciptakan identitas dan nilai bersama
  • Memungkinkan koordinasi skala besar

Fungsi pengikat moralitas memiliki konsekuensi:

  • Bisa menimbulkan tribalism dan konflik antar kelompok
  • Membuat kita buta terhadap kebaikan dalam sistem moral lain
  • Menghambat kemampuan memahami dan berempati pada yang berbeda nilai

Sifat ganda moralitas ini menjelaskan mengapa:

  • Konflik politik dan agama sering sulit diselesaikan
  • Seseorang bisa sangat baik dalam kelompoknya tapi bermusuhan pada luarannya
  • Melepaskan diri dari gelembung moral memerlukan usaha sadar dan paparan pada perspektif beragam

4. Kita 90% simpanse dan 10% lebah

Manusia adalah jerapah dalam hal altruisme. Kita makhluk unik yang kadang—meski jarang—bisa sangat tidak mementingkan diri dan berjiwa tim seperti lebah.

Teori seleksi multilevel memberikan perspektif baru tentang sifat manusia. Kita berevolusi melalui:

  • Seleksi individu: Mendorong kepentingan diri (90% simpanse)
  • Seleksi kelompok: Memupuk kerja sama dan altruisme (10% lebah)

Sifat ganda ini menjelaskan kapasitas kita untuk:

  • Perilaku egois dan pembenaran diri
  • Altruisme sejati dan pengorbanan demi kelompok

Adaptasi tingkat kelompok pada manusia meliputi:

  • Kemampuan mengadopsi niat bersama
  • Kapasitas untuk mengalami euforia kolektif
  • Mekanisme “saklar sarang” yang memungkinkan kita melampaui kepentingan diri

Memahami aspek ini membantu kita:

  • Merancang institusi yang memanfaatkan kecenderungan berkelompok
  • Menghargai nilai ritual dan pengalaman bersama dalam membangun kohesi sosial
  • Menyadari keseimbangan halus antara kepentingan individu dan kelompok dalam masyarakat

5. Agama adalah olahraga tim

Agama adalah kerangka moral eksternal. Jika Anda hidup dalam komunitas religius, Anda terikat dalam norma, hubungan, dan institusi yang bekerja terutama pada gajah untuk memengaruhi perilaku Anda.

Agama sebagai adaptasi budaya memiliki fungsi sosial penting:

  • Mengikat orang dalam komunitas moral
  • Memfasilitasi kerja sama dan kepercayaan
  • Menyediakan ritual dan simbol bersama

Perspektif evolusi tentang agama menunjukkan bahwa:

  • Kepercayaan dan praktik agama berevolusi bersama budaya manusia
  • Mereka membantu menyelesaikan masalah aksi kolektif
  • Berkontribusi pada keberhasilan kelompok manusia

Fungsi pengikat agama menjelaskan mengapa:

  • Orang religius sering memiliki modal sosial lebih tinggi
  • Masyarakat sekuler menghadapi tantangan meniru beberapa manfaat agama
  • Memahami agama perlu melihat fenomena kelompok, bukan hanya kepercayaan individu

6. Matriks moral berbeda antar budaya dan ideologi politik

Moralitas mengikat dan membutakan. Ia mengikat kita ke dalam tim ideologis yang saling berperang seolah nasib dunia bergantung pada kemenangan pihak kita. Ia membutakan kita terhadap fakta bahwa setiap tim terdiri dari orang baik yang punya hal penting untuk disampaikan.

Matriks moral adalah kerangka moral bersama dalam budaya atau kelompok ideologis. Matriks ini membentuk cara orang memandang dan menilai isu moral.

Perbedaan utama matriks moral:

  • Liberalis: Fokus pada kepedulian dan keadilan
  • Konservatif: Menekankan keenam fondasi moral secara lebih seimbang
  • Libertarian: Mengutamakan kebebasan dan keadilan sebagai proporsionalitas

Memahami perbedaan ini dapat membantu:

  • Mengurangi polarisasi politik
  • Meningkatkan komunikasi lintas budaya
  • Membangun empati terhadap prioritas moral berbeda

Tantangan keberagaman moral terletak pada:

  • Mengakui validitas matriks moral lain
  • Menyeimbangkan kepedulian moral universal dengan variasi budaya
  • Mencari titik temu di antara perbedaan ideologis

7. Modal moral penting untuk fungsi masyarakat

Modal moral merujuk pada sumber daya yang menopang komunitas moral.

Modal moral mencakup nilai, norma, dan institusi bersama yang memungkinkan masyarakat berjalan lancar. Ini meliputi:

  • Kepercayaan antar individu dan kelompok
  • Penghormatan pada institusi sosial
  • Rasa tujuan dan identitas bersama

Pentingnya modal moral terlihat pada:

  • Keberhasilan usaha kerja sama
  • Stabilitas sistem politik
  • Ketahanan komunitas saat krisis

Tantangan modal moral di masyarakat modern:

  • Perubahan sosial dan teknologi yang cepat
  • Meningkatnya individualisme dan keberagaman
  • Erosi institusi dan norma tradisional

Menjaga modal moral sambil mendorong kemajuan sosial adalah tantangan utama masa kini.

8. Pikiran benar memiliki enam reseptor rasa

Pikiran benar seperti lidah dengan enam reseptor rasa.

Enam fondasi moral berfungsi sebagai “reseptor rasa” bawaan bagi pikiran benar:

  1. Kepedulian/kerugian: Kepekaan terhadap penderitaan dan kebutuhan
  2. Keadilan/penipuan: Perhatian pada timbal balik dan keadilan
  3. Kesetiaan/pengkhianatan: Menghargai kohesi dan kesetiaan kelompok
  4. Otoritas/pemberontakan: Hormat pada hierarki dan tradisi
  5. Kesucian/penurunan martabat: Perhatian pada kemurnian dan kontaminasi
  6. Kebebasan/penindasan: Perlawanan terhadap dominasi dan penindasan

Implikasi model ini:

  • Moralitas bawaan tapi bervariasi secara budaya
  • Budaya dan ideologi menekankan kombinasi fondasi berbeda
  • Memahami fondasi ini dapat memperbaiki diskursus moral dan pemahaman lintas budaya

Aplikasi Teori Fondasi Moral:

  • Menganalisis retorika politik dan daya tariknya
  • Merancang pendidikan moral yang lebih efektif
  • Meningkatkan resolusi konflik dalam masyarakat beragam

9. Gen dan budaya berevolusi bersama membentuk naluri moral kita

Kita semua terjebak di sini untuk sementara, jadi mari kita coba selesaikan bersama.

Ko-evolusi gen-budaya menjelaskan bagaimana moralitas manusia berkembang melalui interaksi faktor genetik dan budaya. Proses ini melibatkan:

  • Kecenderungan genetik yang membentuk praktik budaya
  • Inovasi budaya yang menciptakan tekanan seleksi baru

Aspek penting ko-evolusi ini:

  • Bisa terjadi relatif cepat (dalam ribuan tahun)
  • Menjelaskan universalitas dan keberagaman moral manusia
  • Menantang dikotomi sederhana antara alam dan lingkungan

Contoh ko-evolusi gen-budaya dalam moralitas:

  • Perkembangan tabu makanan dan respon jijik
  • Evolusi kerja sama dan altruisme
  • Munculnya emosi moral kompleks seperti malu dan bersalah

Memahami proses ini membantu kita:

  • Menghargai akar dalam intuisi moral kita
  • Menyadari potensi kemajuan dan perubahan moral
  • Merancang intervensi yang selaras dengan sifat evolusi kita

10. Saklar sarang memungkinkan manusia melampaui kepentingan diri

Kita memiliki kemampuan (dalam kondisi khusus) untuk melampaui kepentingan diri dan kehilangan diri (sementara dan penuh sukacita) dalam sesuatu yang lebih besar dari diri kita.

Saklar sarang adalah mekanisme psikologis yang memungkinkan manusia:

  • Merasakan kesatuan dengan kelompok
  • Sementara menekan kepentingan diri
  • Terlibat dalam perilaku sangat kooperatif dan altruistik

Pemicu saklar sarang meliputi:

  • Gerakan sinkron (misal menari, berbaris)
  • Pengalaman bersama akan kekaguman atau pencerahan
  • Partisipasi dalam ritual religius atau sekuler
  • Respon kolektif terhadap ancaman eksternal

Pentingnya saklar sarang dalam masyarakat manusia:

  • Memfasilitasi kerja sama skala besar
  • Menciptakan pengalaman ikatan yang kuat
  • Berkontribusi pada keberhasilan agama dan ideologi

Memahami dan memanfaatkan saklar sarang dapat membantu merancang:

  • Latihan pembentukan tim yang lebih efektif
  • Acara dan ritual komunitas
  • Strategi kepemimpinan dalam organisasi

11. Utilitarianisme Durkheimian menawarkan perspektif baru tentang moralitas

Jika Anda tidak melihat bahwa Reagan mengejar nilai positif Kesetiaan, Otoritas, dan Kesucian, Anda hampir harus menyimpulkan bahwa Partai Republik tidak melihat nilai positif dalam Kepedulian dan Keadilan.

Utilitarianisme Durkheimian menggabungkan:

  • Fokus konsekuensialis utilitarianisme
  • Wawasan Durkheim tentang sifat sosial moralitas

Pendekatan ini mengakui bahwa:

  • Kemakmuran manusia bergantung pada kohesi sosial dan komunitas moral
  • Pendekatan etika yang murni individualistis tidak lengkap
  • Fondasi pengikat (Kesetiaan, Otoritas, Kesucian) memiliki nilai positif

Implikasi utilitarianisme Durkheimian:

  • Kebijakan harus mempertimbangkan efek pada kohesi sosial, bukan hanya kesejahteraan individu
  • Aturan moral yang tampak irasional mungkin memiliki fungsi sosial penting
  • Menyeimbangkan hak individu dengan kepentingan kelompok sangat krusial

Perspektif ini dapat membantu:

  • Menjembatani pemikiran moral liberal dan konservatif
  • Merancang kebijakan sosial yang lebih efektif dan holistik
  • Menghargai kebijaksanaan dalam praktik moral tradisional

12. Memahami psikologi moral dapat memperbaiki diskursus politik

Politik bukan permainan ringan.

Menerapkan psikologi moral dalam politik dapat:

  • Mengurangi polarisasi dan meningkatkan empati
  • Meningkatkan efektivitas komunikasi politik
  • Mendorong perbedaan pendapat yang lebih konstruktif

Wawasan utama untuk diskursus politik:

  • Mengenali fondasi moral di balik ideologi berbeda
  • Menggunakan berbagai fondasi moral, bukan hanya kepedulian dan keadilan
  • Memahami bahwa pandangan politik dibentuk oleh intuisi mendalam, bukan hanya alasan

Strategi untuk perbedaan pendapat yang lebih konstruktif:

  • Berusaha memahami matriks moral orang lain sebelum mengkritik
  • Mencari titik temu berdasarkan kepedulian moral bersama
  • Menggunakan pembingkaian moral untuk membuat argumen lebih persuasif lintas ideologi

Dengan mengadopsi wawasan ini, kita dapat bergerak menuju budaya politik yang:

  • Lebih menghormati perspektif moral beragam
  • Lebih mampu menemukan kompromi dan kesamaan
  • Lebih efektif menghadapi tantangan sosial kompleks

Terakhir diperbarui:

Report Issue

Ringkasan Ulasan

4.19 dari 5
Rata-rata dari 66.000+ penilaian dari Goodreads dan Amazon.

The Righteous Mind adalah sebuah buku yang menggugah pemikiran mengenai dasar-dasar psikologis moralitas dan politik. Haidt berpendapat bahwa keputusan moral pada dasarnya bersifat intuitif, sementara penalaran lebih berfungsi sebagai pembenaran setelah keputusan dibuat. Ia mengemukakan enam fondasi moral, dengan menyatakan bahwa kaum konservatif menggunakan keenam fondasi tersebut, sedangkan kaum liberal hanya memfokuskan pada tiga di antaranya. Buku ini memberikan wawasan tentang mengapa orang memiliki pandangan politik dan agama yang berbeda, serta bagaimana menjembatani perbedaan ideologis tersebut. Meski sebagian pembaca menganggapnya mencerahkan, ada pula yang mengkritik kesimpulan Haidt mengenai moralitas liberal dan konservatif sebagai terlalu sederhana atau bias.

Your rating:
4.56
825 penilaian
Want to read the full book?

FAQ

What's The Righteous Mind about?

  • Exploration of Moral Psychology: Jonathan Haidt's The Righteous Mind examines how moral psychology influences political and religious divisions, arguing that morality extends beyond harm and fairness to include a range of intuitions.
  • Intuition vs. Reasoning: The book posits that moral judgments are primarily driven by gut feelings, with reasoning often serving to justify these intuitions post hoc.
  • Moral Foundations Theory: Haidt introduces Moral Foundations Theory, identifying key moral intuitions like care, fairness, loyalty, authority, and sanctity that shape ethical beliefs and behaviors.

Why should I read The Righteous Mind?

  • Understanding Divisive Issues: The book provides insights into the psychological mechanisms behind political and religious polarization, helping readers understand strong beliefs and conflicts.
  • Broader Perspective on Morality: It encourages appreciation for diverse moral perspectives across cultures, fostering empathy and constructive dialogue.
  • Practical Applications: Haidt offers advice on engaging in productive conversations about contentious issues by understanding others' moral frameworks.

What are the key takeaways of The Righteous Mind?

  • Moral Intuitions Matter: Haidt emphasizes that moral intuitions significantly influence reasoning and decision-making, with gut feelings often preceding rational thought.
  • Moral Foundations: The book identifies multiple moral foundations, such as care, fairness, loyalty, authority, and sanctity, explaining moral diversity across cultures and ideologies.
  • Groupish Nature of Morality: Haidt discusses how morality binds and blinds, creating in-group loyalties and inter-group divisions, and suggests understanding this nature can mitigate conflicts.

What is Moral Foundations Theory in The Righteous Mind?

  • Framework for Understanding Morality: Moral Foundations Theory posits several innate moral intuitions that guide ethical beliefs, including care, fairness, loyalty, authority, and sanctity.
  • Cultural Variability: Different cultures prioritize these foundations differently, leading to diverse moral systems; for example, Western cultures may emphasize care and fairness.
  • Adaptive Challenges: Each foundation corresponds to evolutionary challenges faced by ancestors, explaining the universality of certain moral intuitions.

How does Haidt explain the role of intuition in moral decision-making?

  • Intuition as Primary: Haidt argues that moral intuitions are automatic and often precede conscious reasoning, using the metaphor of a rider (reasoning) on an elephant (intuition).
  • Post Hoc Justifications: Individuals often use reasoning to justify moral judgments made based on intuition, with reasoning serving moral emotions.
  • Empirical Evidence: Haidt supports his claims with studies showing people struggle to articulate reasons for moral judgments, highlighting intuition's power.

How does The Righteous Mind address political polarization?

  • Understanding Moral Foundations: Haidt suggests polarization arises from differing emphases on moral foundations, and recognizing these differences can improve understanding.
  • Empathy and Dialogue: The book advocates for empathy and constructive dialogue to bridge divides, emphasizing understanding others' moral frameworks.
  • Cultural Narratives: Haidt discusses how cultural narratives shape political identities and contribute to polarization, offering insights into underlying values.

What role does culture play in shaping moral beliefs according to The Righteous Mind?

  • Cultural Influence on Morality: Haidt emphasizes that culture significantly shapes moral beliefs and values, with different cultures prioritizing different moral foundations.
  • Moral Matrices: The book introduces moral matrices, frameworks individuals use to interpret moral issues based on cultural background, creating in-group loyalties.
  • Evolutionary Perspective: While moral foundations are innate, their expression is influenced by culture, explaining moral diversity across societies.

How can understanding moral psychology improve interpersonal relationships?

  • Empathy and Understanding: Understanding moral foundations driving others' beliefs can cultivate empathy and improve relationships, turning disagreements into dialogue opportunities.
  • Effective Communication: The book provides strategies for communicating across moral divides, such as finding common ground and appealing to shared values.
  • Reducing Conflict: Recognizing differing moral intuitions can help navigate conflicts more effectively, fostering healthier relationships.

How does The Righteous Mind relate to religion?

  • Religion as Social Glue: Haidt argues that religion serves as a moral framework binding communities, enhancing group cohesion and cooperation.
  • Moral Communities: Religions create moral communities that help navigate social dynamics, often emphasizing loyalty and authority to strengthen group identity.
  • Parochial Altruism: While religions promote altruism, it is often parochial, benefiting in-group members, highlighting religion's dual role in moral behavior.

What is the significance of the "hive switch" in The Righteous Mind?

  • Groupishness and Cooperation: The hive switch refers to mechanisms enabling individuals to transcend self-interest for collective good, fostering cooperation.
  • Neurobiological Basis: Haidt discusses oxytocin and mirror neurons' roles in group cohesion and empathy, strengthening social ties.
  • Cultural Implications: Understanding the hive switch helps explain societal functioning and collective identity formation, suggesting group dynamics can drive positive change.

What methods does Haidt suggest for improving political discourse?

  • Fostering Empathy: Haidt emphasizes empathy in bridging divides, engaging with opposing viewpoints to cultivate understanding and reduce polarization.
  • Recognizing Moral Foundations: Understanding moral foundations underlying political beliefs facilitates constructive conversations, appreciating others' values.
  • Encouraging Civil Dialogue: The book advocates for spaces allowing respectful discussions on contentious issues, promoting civility and open-mindedness.

How does The Righteous Mind address the concept of self-righteousness?

  • Self-Righteousness as Human Trait: Haidt argues self-righteousness is common, with individuals seeing their moral views as superior, often overlooking biases.
  • Moral Blindness: Self-righteousness can blind individuals to alternative perspectives, leading to moral absolutism and conflict.
  • Encouraging Humility: Haidt advocates for humility in moral discussions, recognizing limitations and biases to foster open-minded conversations.

Tentang Penulis

Jonathan Haidt adalah seorang psikolog sosial sekaligus profesor di Stern School of Business, Universitas New York. Ia meraih gelar PhD dari Universitas Pennsylvania dan sebelumnya mengajar di Universitas Virginia. Fokus penelitian Haidt berkisar pada psikologi moral dan politik, yang dituangkan dalam bukunya yang berpengaruh, The Righteous Mind. Karyanya terus mengkaji berbagai isu sosial, dengan buku terbarunya, The Anxious Generation, yang melanjutkan tema-tema dari The Coddling of the American Mind. Haidt juga aktif berpartisipasi dalam diskursus publik melalui tulisan-tulisannya, termasuk di platform After Babel Substack, yang membahas etika, politik, dan dinamika sosial dalam masyarakat kontemporer.

Follow
Dengarkan
Now playing
The Righteous Mind
0:00
-0:00
Now playing
The Righteous Mind
0:00
-0:00
1x
Queue
Home
Swipe
Library
Get App
Try Full Access for 3 Days
Listen, bookmark, and more
Compare Features Free Pro
📖 Read Summaries
Read unlimited summaries. Free users get 3 per month
🎧 Listen to Summaries
Listen to unlimited summaries in 40 languages
❤️ Unlimited Bookmarks
Free users are limited to 4
📜 Unlimited History
Free users are limited to 4
📥 Unlimited Downloads
Free users are limited to 1
Risk-Free Timeline
Hari Ini: Dapatkan Akses Instan
Dengarkan ringkasan lengkap dari 26.000+ buku. Itu 12.000+ jam audio!
Hari ke-2: Pengingat Uji Coba
Kami akan mengirimkan notifikasi bahwa uji coba Anda akan segera berakhir.
Hari ke-3: Langganan Anda dimulai
Anda akan dikenakan biaya pada Jun 13,
batalkan kapan saja sebelumnya.
Consume 2.8× More Books
2.8× more books Listening Reading
Our users love us
600,000+ readers
Trustpilot Rating
TrustPilot
4.6 Excellent
This site is a total game-changer. I've been flying through book summaries like never before. Highly, highly recommend.
— Dave G
Worth my money and time, and really well made. I've never seen this quality of summaries on other websites. Very helpful!
— Em
Highly recommended!! Fantastic service. Perfect for those that want a little more than a teaser but not all the intricate details of a full audio book.
— Greg M
Save 62%
Yearly
$119.88 $44.99/year/yr
$3.75/mo
Monthly
$9.99/mo
Start a 3-Day Free Trial
3 days free, then $44.99/year. Cancel anytime.
Unlock a world of fiction & nonfiction books
26,000+ books for the price of 2 books
Read any book in 10 minutes
Discover new books like Tinder
Request any book if it's not summarized
Read more books than anyone you know
#1 app for book lovers
Lifelike & immersive summaries
30-day money-back guarantee
Download summaries in EPUBs or PDFs
Cancel anytime in a few clicks
Scanner
Find a barcode to scan

We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel
Settings
General
Widget
Loading...
We have a special gift for you
Open
38% OFF
DISCOUNT FOR YOU
$79.99
$49.99/year
only $4.16 per month
Continue
2 taps to start, super easy to cancel